Pengikut

Sabtu, 27 November 2010

Tumbuhan Langka

Bunga Bangkai (rafflesia arnoldi)
bunga_raflesiai
Ditemukan oleh rombongan Sir Stamfort (gubernur East Indi Company di Sumatera dan Jawa) dan Dr. Joseph Arnord, seorang naturalis yang mengadakan ekspedisi di Bengkulu pada tanggal 20 Mei 1818. Kedua nama tersebut diabadikan menjadi nama latin bungan ini oleh Robert Brown.
Indonesia dilimpahi dengan kekayaan hayati yang tiada taranya. Hutan yang terbentang di belasan ribu pulau mengandung berbagai jenis flora dan fauna, yang kadang tidak dapat dijumpai di bagian bumi lainnya dan merupakan salah satu negara Mega Biodiversity (kekayaan akan keanekaragaman hayati ekosistem, sumberdaya genetika, dan spesies yang sangat berlimpah). Tidak kurang dari 47 jenis ekosistem alam yang khas sampai jumlah spesies tumbuhan berbunga yang sudah diketahui, sebanyak 11 % atau sekitar 30.000 jenis dari seluruh tumbuhan berbunga di dunia. Sayangnya, banyak jenis tumbuhan tertentu, mengalami kepunahan.
Sampai saat ini, Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta tiga cabangnya (Kebun Raya Cibodas,Purwodadi, dan Bedugul Bali) baru mengoleksi 20 % total jenis tumbuhan yang ada di Indonesia. Koleksi anggrek kurang dari 5 % yang ada di Kawasan Timur Indonesia. Untuk jenis durian saja, Indonesia memiliki puluhan jenis, talas ada 700-an jenis, yang semuanya sangat potensial untuk dikembangkan. Menurut data base yang ada, terdapat 2 juta spesies tumbuhan di dunia dan 60%nya ada di Indonesia. Pemerintah kini terus berupaya untuk menyelamatkan berbagai kekayaan Sumbar Daya Alam berupa tumbuhan langka yang bermanfaat bagi manusia melalui usaha memperbanyak kebun raya, taman nasional, cagar alam dan daerah-daerah konservasi di seluruh Indonesia.
Tidak bisa dibayangkan banyaknya jenis tumbuh-tumbuhan atau flora di dunia ini. Sampai saat inipun banyak kalangan ilmuwan yang berpendapat bahwa belum semua jenis flora yang ada di bumi telah dikenali.
Seperti halnya hewan, jenis-jenis flora sangat ditentukan oleh lingkungan spesifiknya yang disebut juga sebagai habitat. Dengan bantuan manusia, beberapa diantara tumbuh-tumbuhan ini tersebar luas ke berbagai belahan bumi, sehingga ada jenis yang bisa ditemui di banyak negara, dan adapula yang hanya dapat ditemui di habitat asalnya.
Kerusakan lingkungan yang terjadi telah menghancurkan banyak habitat-habitat tumbuhan yang menyebabkan punahnya jenis-jenis tumbuhan tertentu, sehingga turut mempengaruhi kehidupan hewan dan penduduk yang tinggal diatasnya.
Anggrek Pensil (Vanda Hookeriana)
hookeriana
Angger pensil (Vanda hookeriana) asal Sumatra adalah jenis anggrek yang langka. Anggrek yang banyak diminati para pencinta bunga itu hidup menumpang pada bunga bakung (Crinum asiaticum). Langkanya anggrek ini, dikarenakan habitat anggrek yang ada di Cagar Alam Dusun Besar (CADB), Bengkulu sudah rusak oleh tangan manusia. Kerusakan tersebut juga menyebabkan bunga bakung mati.
Untuk mencegah kepunahan anggrek pensil, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu telah mencoba mengembangbiakkan anggrek ini. Uji coba pengembangbiakan anggrek langka itu di Danau Dendam Tak Sudah (DDTS), Bengkulu. Pada Februari 2005 ditanam sebanyak 20 batang, dan April 2006 sebanyak 7 batang. Ternyata anggrek tersebut dapat tumbuh subur di DDTS.
Pada bulan Juni ini BKSDA akan menanam kembali 20 batang anggrek hasil penangkaran yang dilakukan oleh BKSDA. Demikian dikatakan Kepala BKSDA Bengkulu, Yohanes Sudarto, Rabu (6/6).
Anggrek pensil memiliki keindahan yang khas. Kesegaran bunga ini dapat mencapai 22 hari. Pada tahun 1882 anggrek ini dinobatkan sebagai “Ratu Anggrek” dan mendapat hadiah “First Class Certificate” dari pemerintah Inggris.
Kata sulitHabitat: tempat tinggal khas untuk hewan dan tumbuhan.Penangkaran: usaha pengembangbiakan hewan atau tumbuhan.
Bunga Edelweis Anaphalis Javanica
edelweiss
Edelweis Anaphalis Javanica adalah tumbuhan gunung yang terkenal, tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian 8 m dan memiliki batang sebesar kaki manusia, tetapi tumbuhan yang cantik ini sekarang sangat langka.
Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga-bunganya sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan dan lebah terlihat mengunjunginya.
Jika tumbuhan ini cabang-cabangnya dibiarkan tumbuh cukup kokoh, edelweis dapat menjadi tempat bersarang bagi burung tiung batu licik Myophonus glaucinus. Bagian-bagian edelweis sering dipetik dan dibawa turun dari gunung untuk alasan-alasan estetis dan spiritual, atau sekedar kenang-kenangan oleh para pendaki. Pada bulan Februari hingga Oktober 1988, terdapat 636 batang yang tercatat telah diambil dari Gunung Gede-Pangrango. Dalam batas tertentu dan sepanjang hanya potongan-potongan kecil yang dipetik, tekanan ini dapat dihadapi.
Sayangnya keserakahan serta harapan-harapan yang salah telah mengorbankan banyak populasi, terutama populasi yang terletak di jalan-jalan setapak. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa edelweis dapat diperbanyak dengan mudah melalui pemotongan cabang-cabangnya. Oleh karena itu potongan-potongan itu mungkin dapat dijual kepada pengunjung untuk mengurangi tekanan terhadap populasi liar.
Tanaman Pakis Ekor Monyet
pakis-ekor-monyet
Tanaman ini terbilang langka, sinonimnya cukup banyak yaitu pakis hanoman, pakis sun go kong, dll. Nama yang banyak disandangnya tidak lain disebabkan karena penampilan luar dari tanaman pakis ini sendiri. Tidak seperti tanaman lain yang berdaun, tanaman ini justru berbulu/berambut seperti monyet.
Perawatan tanaman ini berdsarkan sumber sumber yang saya baca tidak sulit, yang sulit budi-dayanya menjadikan tanaman ini langka dan banyak diburu oleh para kolektor tanaman langka.


29 Jenis Anggrek Spesies Dilindungi UU

Di Indonesia, 29 jenis anggrek spesies telah dilindungi Undang-undang sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa (3 jenis masuk dalam Appendix I dan 26 jenis masuk dalam Appendix II).
Menurut Kris Heriyanto, jenis anggrek yang tidak dilindungi tapi masuk dalam Appendix CITES, seperti : Dendrobium lowii masuk appendix I, Phalaenopsis amabilis masuk Appendix II dan Bulbophyllum lobbii masuk dalam Appendix II.

Dendrobium lowii

Phalaenopsis amabilis

Bulbophyllum lobbii

Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) adalah Konvensi Perdagangan Internasional Fauna dan Flora Liar Langka (kesepakatan berbagai negara). Tujuan CITES untuk memastikan bahwa fauna dan flora liar yang diperdagangkan secara Internasional tidak dieksploitasi secara berlebihan/tidak berkelanjutan.

Indonesia meratifikasi CITES berdasarkan keputusan Prsiden No. 43 Tahun 1978 dengan management Authority ; Ditjen Dep. Kehutanan dan Scientific Authority ; LIPI.
Ada lima hal pokok yang menjadi dasar dibentuknya konvensi, adalah:

1.Perlunya perlindungan jangka panjang terhadap tumbuhan dan satwa liar.

2.Meningkatnya nilai sumber tumbuhan dan satwa liar bagi Adanya peran dari masyarakat dan negara dalam usaha perlindungan tumbuhan dan satwa liar.

3.Makin mendesaknya kebutuhan suatu kerja sama internasional untuk melindungi jenis-jenis tersebut dari eksploitasi lebih (over exploitation) melalui kontrol perdagangan internasional.

4.Untuk mencapai tujuan tersebut, maka jenis-jenis atas dasar kelangkaannya yang ditentukan oleh konferensi Para Pihak CITES digolongkon dalam 3 kelompok atau Appendix, yaitu Appendix I, II dan III.
Appendix I adalah perdagangan Internasional (yang bersifat komersil) seluruhnya dilarang kecuali dari hasil penangkaran.
Appendix II adalah perdagangan internasional diperbolehkan tetapi dikontrol melalui kuota.
Appendix III perdagangan internasional diperbolehkan tapi dikontrol dengan pengawasan oleh negara lain (secara umum pembatsan perdagangannya lebih ringan dibandingkan dengan appendix II).
Pandangan terhadap masalah anggrek:
a. Untuk melindungi anggrek alam (spesies), masyarakat, pemerintah lokal dan daerah terkait dimana anggrek tersebut tumbuh perlu mendapat informasi, penguatan kapasitas dan adanya dukungan kebijakan sehingga dapat menjaga agar tidak terjadi pengambilan anggrek berlebihan.
b. Perlu dibangun mekanisme benefit sharing bagi masyarakat, sebagai insentif dalam menjaga ekosistem dimana anggrek tersebut tumbuh.
c. Explorasi terhadap pengenalan jenis anggrek alam (spesies) masih sangat dibutuhkan.
d. Pentingnya penelitian dan pengembangan anggrek untuk menunjang budidaya dan penyediaan bibit.
e. Kebijakan dan penegakan hukum menyangkut perdagangan anggrek perlu dibereskan, sehingga upaya perdagangan tetap menjaga pelestarian dan pemanfaatan lestari anggrek.

5.Pemanfaatan Anggrek
Semua anggrek hasil perbanyakan spesies dan hasil persilangan dapat dimanfaatkan (khusus Appendix I CITES harus terdaftar di skretariat CITES). Hasil perbanyakan spesies jenis-jenis yang dilindungi dan atau Appendix I CITES, TIDAK DIBENARKAN untuk diekspor.

Para pecinta anggrek tidak hanya menikmati keindahan dan kecantikan anggrek, tapi mereka juga melakukan penyilangan. Penyilangan dilakukan berdasarkan indahnya, dan karakteristik yang mungkin bermanfaat dihilangkan, tegas Sjahrizal Siregar, pencinta anggrek dari Bandung.

Menurut Sjahrizal perbanyakan/penyilangan anggrek spesies diambil dari hutan, dan ini tidak melalui ijin dari aparat setempat. Maka bila kita mengikuti peraturan, para pencinta anggrek seharusnya sudah dikenakan sanksi, karena telah melanggar peraturan, lanjut Sjahrizal. Hasil penyilangan yang indah untuk dijadikan perdagangan internasional.

Janganlah jual anggrek yang langka ke luar, lantas beri dari yang baru. Tolong perlakuan secara eksitu diakreditasi, dan apa syarat-syarat hutan yang dilindungi untuk anggrek, pesan Sjahrizal di akhir acara.

Tumbuhan

Iklim dan jenis tanah di kawasan TNGP memberi pengaruh terhadap kondisi kehidupan tumbuhan di TNGP.
Kawasan Gunung Gede dan Pangrango merupakan kawasan yang terbasah di pulau Jawa, and sebagai konsekwensinya hutan di kawasan ini sangat kaya dengan beranekaragam jenis flora. Bulan Desember – Maret merupakan bulan terbasah, dimana hujan turun hampir setiap hari. Tetapi antara Bulan Maret sampai September merupakan musim kering/kemarau, daun-daun kering banyak berjatuhan dan potensial untuk menyebabkan kebakaran, namun kelembaban lingkungan mikro hutan dan tanah mampu untuk menjaga agar vegetasi tetap hijau dan bertumbuh. Pada bagian pegunungan, temperatur udara semakin turun dan hutan sekitarnya sering ditutupi kabut, dan kelembaban udara yang rendah di daerah ini merupakan habitat ideal bagi tumbuhan pemanjat dan lumut.
Pada daerah yang lebih tinggi ketersedian dan kondisi udara semakin sedikit dan menipis, dan kelembaban makin rendah, serta ketersediaan nutrisi tanah juga sedikit. Hal ini menyebabkan keanekaragaman jenis tumbuhan semakin rendah dan struktur hutan sudah tidak lengkap, tidak ada pohon tinggi. Ahli ekologi membuat klasifikasi ekosistem hutan di TNGP kedalam 3 tipe vegetasi berdasarkan ketinggian yaitu:
Montana Bawah / submontana
(1,000-1,500 m d.p.l.)
Montana (1,500-2,400 m d.p.l.)
Sub Alpin (2,400-3,019 m d.p.l)
Hutan Montane Bawah / submontana
Tipe vegetasi ini dapat ditemukan saat mulai memasuki kawasan TNGP. Terdapat jenis-jenis satwa dan tumbuhan pada hutan tipe ini, termasuk Owa Jawa dan si pohon raksasa Rasamala, yang merupakan jenis satwa dan tumbuhan yang habitatnya pada tipe hutan ini. Hal ini disebabkan karena tipe hutan ini mempunyai jenis vegetasi yang merupakan campuran antara vegetasi hutan dataran rendah dan hutan pegunungan sehingga seringkali disebut sebagai ekosistem sub montana.
Kondisi tanah di hutan montana dataran rendah biasanya dalam, basah, dan kaya dengan bahan-bahan organik dan partikel tanah yang subur seperti tanah liat, karena itu, pohon-pohon di hutan montana tumbuh lebih besar dan tinggi. Pohon-pohon dominan di hutan montana adalah saninten, dan kayu pasang dari famili FAGACEA.
Hutan montana
Zona ini disebut juga ”Hutan Pegunungan Atas”, berada pada ketinggian 1500 – 2400 m dpl. Ekoton antara vegetasi hutan pegunungan bawah dan hutan pegunungan atas biasanya sangat jelas. Ada suatu perbedaan jelas yaitu: pohon-pohon agak semakin jarang sehingga mudah melihat ke dalam hutan, karena pandangan kita tidak terhalang oleh vegetasi bawah. Pendaki yang berhenti untuk istirahat seringkali merasa lebih dingin. Kebanyakan tumbuhan yang tumbuh pada ketinggian ini merupakan jenis tumbuhan pegunungan sejati, hidup pada kondisi iklim sedang.
Tajuk pohon di hutan pegunungan biasanya memiliki ketinggian yang sama, yaitu 20 meter, percabangan pohon lebih pendek dari cabang pohon di hutan sub montana. Pohon besar dan sangat tinggi sangat jarang, karena perakaran. Daun-daun umumnya kecil. Herba yang umumnya ditemukan di lantai hutan termasuk jenis yang digunakan sebagai tanaman hias yaitu Begonia, Impatiens dan Lobelia.
Hutan Sub Alpin
Hutan di zona sub alpin hanya terdiri dari 2 lapisan yaitu lapisan pohon-pohon kerdil, rapat dengan batang pohon yang kecil, dan lantai hutan dengan tumbuhan bawah yang jarang. Hanya ditemukan sedikit jenis vegetasi yang telah beradaptasi dengan lingkungan yang beriklim ekstrim, hal ini barangkali terkait dengan kondisi tanah yang miskin hara dengan jenis tanah berbatu (litosol).
Jenis pohon yang dominan di hutan ini adalah cantigi (Vaccinium varingiaefolium), dari keluarga ERICACEAE, dan dapat dengan mudah dijumpai disepanjang jalan setapak menuju kawah. Mirip dengan famili jenis Cantigi yang asal Eropa yaitu bilberry, cantigi juga mempunyai buah berry yang bisa dimakan. Daun cantigi muda juga mempunyai warna menarik yaitu merah bersinar yang memperindah hutan pegunungan, seperti halnya pohon puspa. Warna daun muda yang merah kemungkinan merupakan upaya tumbuhan untuk melawan sinar ultraviolet yang sangat ektrim.
You can carefully look for a tiny white flower of Argostemma montanum in the forest floor of submontane forest.
Rasamala, an emergent of the forest
Impatiens javanesis
above: due to high humidity, many epiphytes growing on trees
left: a flower of Lobelia montana
left:
flowers of Javan Edelweiss can be seen mostly around the crater of Mt. Gede and Alun-alun Suryakencana.
right:
dwarf forms of subalpine trees
left:
flowers and edible berries of cantigi. Young leaves have sour taste and also edible.
Jenis-jenis Anggrek di Gunung Gede-Pangrango
Terdapat lebih dari 200 jenis anggrek di kawasan TNGP; beberapa diantara merupakan jenis anggrek berbunga besar dan sangat indah, namun kebanyakan anggrek di TNGP merupakan jenis anggrek tanah dan kecil serta sangat sulit ditemukan. Kebanyakan anggrek pegunungan hanya tumbuh pada lingkungan yang basah dan lembab.
Trichoglottis pusilla: merupakan anggrek dengan bunga bearoma wangi, hidup di dataran rendah hutan pegunungan. Jenis ini hanya tumbuh pada ketinggian antara 1500 – 1700 m dpl. Juga ditemukan di Sumatera.
Cymbidium lancifolium: termasuk anggrek yang anggota Genus ini tersebar di Asia; Jenis-jenis anggrek dari genus ini tersebar mulai dari Indonesia sampai Jepang, dan didalam kawasan TNGP hidup di hutan hujan pegunungan rendah.
Dendrobium hasseltii: Jenis anggrek yang habitatnya di ketinggian, dan nama anggrek ini ”hasseltii” merupakan nama peneliti yang menemukannnya di Gunung Pangrango.

Indeks sementara - Provisional Index

(Update terakhir - November 7, 2006 - Last update)

Beccariana Vol.1 Nomor 1, Mei 1999

(belum siap - not yet available)

Beccariana Vol.1 Nomor 2, Sept. 1999

(belum siap - not yet available)

Beccariana Vol.2 Nomor 1, Mei 2000


3.0Mb / 7.8Mb
  1. Taksonomi dan Demografi Jenis-jenis Rotan Pada Kawasan Hutan Wisata Gunung Meja Manokwari, Irian Jaya (Taxonomy and Demographics of the rattan species in Gunung Meja Tourism Park Area, Manokwari Irian Jaya) Sineri R.M, E.M. Kesaulija dan R.A. Maturbongs (1-7).
  2. Ekologi dan Demografi Palem Ekor Dean Sommieria sp. di Kawasan Hutan Sembewen-Teminabuan Kabupaten Dati II Sorong (Ecology and Demographics of Fish Tail Sommieria sp. in Sembewin-Teminabuan Forest Area, Sorong District, Irian Jaya) (8-13).
  3. Jenis-jenis Bambu di Daerah Amban Pantai Kabupaten Manokwari (Bamboo Species in Amban Coastal Forest Area, Manokwari District, Irian Jaya) Susanto Iwan, Anna R.R. Marpaung, Surianto Batara Dewa (14-17).
  4. Eksplorasi Beberapa Jenis Masoi Cryptocarya spp. Pada Areal HPH PT Dharma Mukti Persada di Kecamatan Wasior Kabupaten Manokwari (An exploration of some masoi Cryptocarya spp. in the concession area of PT. Dharma Mukti Persada, Wasior, Manokwari District, Irian Jaya) (18-23).
  5. Uji Asosiasi Interspesipik Antara Anggrek Efifit Raksasa Grammatophyllum Speciosum Blume Dengan Kayu Besi Insia Sp. Pada Kawasan Hutan Sekitar Kali Masauwi Dan Kali Muari Kecamatan Oransbari, Manokwari (Test Of interspecific association between giant epiphtic orchid Grammatophyllum Speciosum blume and iron wood tree Insia sp. on forest area around the Masauwi and Muari, Oransbari, Manokwari) J. Wanggai (24-27).
  6. Kesamaan Morfologis Empat Jenis Rotan Daemonorops Seksi Piptospatha Di Sumatera Dan Kalimantan (Morphological similarity of four Daemonorops Piptosphata sections in Sumatera and Borneo) Maturbongs, Rudi A. dan H. Rustiami (28-37).

Beccariana Vol.2 Nomor 2, Sept. 2000


3.2Mb / 8.8Mb
  1. Etnobotani Suku Tepin di pulau salawati Kabupaten Dati II Sorong, Irian Jaya (Etnobotany of the Tepin tribe of Salawati Island, Sorong Irian Jaya) R.A. Maturbongs, A.Y.S. Arobaya, Charlie D. Heatubun, Yan R. Pugu (38-48).
  2. Ekologi Rumput Kebar Biophytum petersianum Klotzsch. Di Kecamatan Kebar, Manokwari, Irian Jaya (Ecological aspects of Biophytum petersianum Klotzsch in Kebar District, Manokwari, Irian Jaya) (44-47).
  3. Eksplorasi jenis-jenis Benih Acacia dan Eucalyptus pellita F. Muell di Merauke - Irian Jaya (Seed exploration of acacia species and Eucalyptus pellita F. Muell in Merauke Irian Jaya) (48-53).
  4. Keragaman Jenis Rotan di Areal Hutan Dataran Rendah Siwi, Ransiki, Manokwari, Irian Jaya (The diversity of rattan species in Siwi Lowland Forest area, Ransiki, Manokwari District, Irian Jaya) (54-64).
  5. Jenis Bambu di Pulau Mansinam, Manokwari, Irian Jaya (The bamboo species in Mansinam Island, Manokwari District, Irian Jaya) (65-69).
  6. Beberapa Jenis palem Hias di Kawasan Hutan Teminabuan, Sorong, Irian Jaya (Some species of ornamental palm in Teminabuan Forest Area, Sorong District, Irian Jaya) (70-74).

Beccariana Vol.3 Nomor 1, Mei 2001

(belum siap - not yet available)

Beccariana Vol.3 Nomor 2, Sept. 2001


4.6Mb / 12.3Mb
  1. Aspek Ekologis Sommeria leucophylla Becc. (Aracaceae) di Manokwari, Papua (Ecological aspect of Sommeria leuoophyila Becc. (Aracaceae) in Manokwari. Papua) Chusnul Wijayanti, Jacobus Wanggai dan Charlie D. Heatubun (1-5).
  2. Keragaman Jenis Anggrek Epifit di Desa Sansundi Kawasan Cagar Alam Biak Utara, Pulau Biak (Epiphytic orchids diversity in Sansundi Village, North Biak Nature Reserve, Biak Island) Seitske Krisifu, Jacobus Wanggai, dan Budi B. Husodo (6-10).
  3. Jenis Anggrek Epifit Pada Kawasan Hutan Mangrove di Pulau Nau, Kabupaten Yapen Waropen (Epiphytic orchids in the mangrove forests areas of Nau Island, Yapen Waropen District) Rein P. Liklikwatti dan C. Y. Hans Arwam (11-18).
  4. Pemanfaatan Jenis Tumbuhan Pohon Oleh Suku Wondama di Desa Tandia, Wasior Kabupaten Manokwari (Tree plants species utilization by Wondama ethnic groups at Tandia Village, Wasior, Manokwari District) Worabai Suman, E. M. Kesaulija dan Rudi A. Maturbongs (19-30).
  5. Pemanfaatan Palem Oleh Masyarakat Etnik Wondama di Tandia Kecamatan Wasior - Manokwari (Palms utilization by Wondama ethnic groups at Tandia District Wasior, Manokwari District). Wilson F. Rumbiak dan Charlie D. Heatubun (31-37).
  6. Analisis vegetasi di hutan dataran rendah Wadapi Kabupaten Yapen Waropen (Vegetation analysis of the Wadapi lowland forest, Yapen Waropen District). Rudi A. Maturbongs (38- ).

Beccariana Vol.4 Nomor 1, Mei 2002


5.1Mb / 13.0Mb
  1. Biodiversitas Palem pada Bagian Utara Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cyclops (Diversity of palm in northern Cyclops Mountains Nature Reserve) B. Desianto, Rudi A. Maturbongs dan Charlie D. Heatubun (1-14).
  2. Teknik Pemanenan Berkelanjutan Kulit Pohon Lawang (Cinnamommum culillawanne Bl.) (Sustainable harvesting of lawang bark Cinnamommum culillawanne BL). M.J. Tokede dan C.M.E. Susanti (15-19).
  3. Tumbuhan Obat Menurut Etnobotani Suku Biak (Traditional medicinal plants of the Biak people). S.D. Hastuti, M.J. Tokede dan Rudi A. Maturbongs (20-40).
  4. Identifikasi Jenis Anggrek Efifit pada Kawasan Hutan Manggrove Desa Waijan Kecamatan Samate Kabupaten Sorong (Epiphyte orchids from mangrove forest in Waijan Village, Sorong Regency). Nelce Duwit, C. Y. Hans Arwam dan J. Manusawai (41-48).
  5. Teknik Pembibitan dan Penanaman Sagu (Metroxylon Sagu Rottb.) oleh Penduduk Desa Air Besar dan Desa Kanantare Kecamatan Fakfak Kabupaten Fakfak (The propagation and planting of sago by the community of Air Besar and Karnante, Fak-Fak sub-District, Fak-Fak District) E. Herlina, A. Rumbino dan J. Manusawai (59-55).
  6. Kearifan Pemanfaatan Tumbuh-Tumbuhan Sebagai Obat Tradisonal oleh Masyarakat Suku Wondama di Desa Tandia Kecamatan Wasior Kabupaten Manokwari (The use of traditional medicinal plants by the Wondama peoples of Manokwari Regency). W. Indaryani, F.Wanggai dan Rudi A. Maturbongs (56-67).

Beccariana Vol.4 Nomor 2, Sept. 2002

(belum siap - not yet available)

Beccariana Vol.5 Nomor 1, Mei 2003


4.8Mb / 12.1Mb
  1. Karakterisasi jenis-jenis bamboo pada Kawasan penyangga Cagar Alam Pegunungan Arfak, Kampung Tanah Merah, Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari (Characteristics of bamboo in the buffer-zone area of Arfak Natural Resource, Tanah Merah Manokwari) E. W. Jendro, S.B. Husodo, dan E.M.Kesaulija (1-7).
  2. Karakterisasi Jenis-Jenis Rotan Di Hutan Sepadan Sungai Tami Distrik Arso Kabupaten Jayapura (Characteristics Of Rattan In Sepadan Forest, Sungai Tami, Arso, Jayapura) Ngatuwi, Susilo B. Husodo Dan Jacob Manusawai (8-17).
  3. Habitat Palem Akar Tunjang (Drymophloeus Spp.) Di Kawasan Hutan Tuwanwouwi Manokwari (Habitat of Akar Tunjang palm (Drymophloeus Spp.) in Tuwanwouwi Forest, Manokwari) Darmanto Aji, Muhammad Makrus dan Alimudin Yusuf (18-23).
  4. Pemanfaatan Tumbuhan Sebagai Obat Tradisional Oleh Masyarakat Suku Maibrat Di Kampung Sembaro Distrik Ayamaru Kabupaten Sorong (The use of plants for traditional medicines by the Maibrat people of Sembaro Village, Ayamaru sub-District, Sorong District) Marthen Howay, Nurhaida I. Sinaga dan E. M. Kesaulija (24-34).
  5. Status Populasi Sommieria leucophylla Becc (Arecaceae) Di Kawasan Hutan Andai-Manokwan (Population of Sommieria leucophylla Becc. In Andai-Forest, Manokwari) Hariyanti, Nurhaida I. Sinaga Dan Charlie D. Heatubun (35-42).
  6. Pemanfaatan Vegetasi Mangrove oleh Masyarakat Kampung Rayori di Distrik Supiori Selatan Kabupaten Biak Numfor (The utilization of mangrove vegetation by the Rayori Villagers of South Supiori sub-District, Biak Numfor District) Sarah Mamoribo, C.Y. Hans Arwam dan Alimudin Yusuf (43-51).

Beccariana Vol.5 Nomor 2, Sept. 2003


6.7Mb / 16.9Mb
  1. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Tradisional Oleh Masyarakat Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari (The use of plants for traditional medicine by people living in Mansinam Island, Manokwari District) Pahra Hamzah, E.M. Kesaulija, dan Yohanes Y. Rahawarin (52-60).
  2. Eksplorasi Jenis-Jenis Anggrek Pada Kawasan Hutan Mangrove Oransbari Kabupaten Manokwari (Exploring the orchid species in the mangrove forest around Oransbari, Manokwari District) Silvia Kesaulija, J. Manusawai dan Rusdi Angrianto (61-66).
  3. Eksplorasi Jenis Palem Pada Kawasan Hutan Dataran Rendah Bayeda Distrik Teluk Arguni (Exploring the palm species in the lowland forest of Bayeda District, Teluk Arguni) Lamberth B. Nega, A.R. Wasaraka dan Charlie D. Heatubun (67-81).
  4. Jenis Palem Di Daerah Aliran Sungai Tami Arso - Jayapura (Palm species in the Tamif Arso River basin, Jayapura District) Piter Gusbager, Nurhaida I. Sinaga dan Charlie D. Heatubun (82-96).
  5. Pemanfaatan Tumbuhan Dalam Ekosistem Mangrove Oleh Masyarakat Di Kampung Senebuay Distrik Rumberpon Kabupaten Manokwari (The use of plants from mangrove forest by local people in Senebuay Village, Rumberpon sub-District, Manokwari District) Daniel Leonard, J. Wanggai dan J. Manusawai (97-108).
  6. Pemanfaatan Jenis-Jenis Kayu Sebagai Bahan Baku Pembuatan Perahu Tradisional Oleh Masyarakat Kampung Wariap Distrik Ransiki Kabupaten Manokwari (The use of three species for traditional boats by local people in Wariap Village, Ransiki sub-District, Manokwari District) Rusman Duwila, Nurhaida I. Sinaga dan Yohanes Y. Rahawarin (109-116).



Beccariana Vol.6 Nomor 1, Mei 2004


(abstrak - abstracts)
  1. Environment Factors Affecting Terestrial Fern Distribution adjacent to Birthday Creek, Paluma (Faktor-Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Penyebaran Jenis Paku Terestrial di Birthday, Paluma, North Queensland) Agustina Y.S. Arobaya (1-9).
  2. Pola Pemanfaatan Sagu di Pulau Kofiau Kabupaten Raja Ampat (Pattern of The Sagu Utilization In Kofiau Island of Raja Ampat) Rima H. Siburian (10-13).
  3. Tumbuhan Hutan yang Dimanfaatkan sebagai Bahan Makanan oleh Masyarakat Suku Yachai di Kabupaten Mappi Papua (The Use of Forest Vegetation as Edible Plant by Yachai People in Mappi District Papua) Robertus Alexander Gobai, Dan Yohanes Y. Rahawarin (14-26).
  4. Sebaran dan Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Paku (Pterydophyta) di Kawasan Hutan Prafi, Manokwari (Distribution and Diversity of Some Pterydophyta in Complex Forests Prafi, Manokwari) Nurhaidah Iriany Sinaga (27-32).
  5. Analisis Vegetasi Jenis Komersil di Kampung Ibele Distrik Hubikosi Kabupaten Jayawijaya dalam Kawasan Penyangga Taman Nasional Lorentz (Analysis of Vegetation of Commercial Trees in Ibele Village, District of Hubikosi, Jayawijaya, The Buffer Zone of Lorenz National Park) Hans F. Z. Peday (33-39).
  6. Aspek Lingkungan Fisik Tempat Tumbuh Sommieria Leucophylla Becc. (Arecaceae) di Hutan Wisata Sorong (Physical Aspects of Environment of Site Index of Sommieria Leucophylla Becc (Arecaceae) in The Recreational Forest of Sorong) Elieser Vicktor Sirami (40-47).



Beccariana Vol.6 Nomor 2, Sept 2004


(abstrak - abstracts)
  1. Records of Orchidaceae from Waigeo Island of Raja Ampat Archipelago, Papua: Notes on The Distribution and Morphological Characters of Some Species (Catatan Famili Orchidaceae dari Pulau Waigeo, Kepulauan Raja Ampat, Papua : Catatan Tentang Persebaran dan Karakter Morfologi pada Beberapa Jenis) Agustina Y.S. Arobaya and Julius D. Nugroho (48-64).
  2. Habitat Livistona Papuana Becc. (Arecaceae : Coryphoideae) di Bagian Timur Pulau Yapen (Habitat of Livistona papuana Becc (Arecaceae : Coryphoideae) on Eastern Yapen Island) Hendrico Arisoi (65-70).
  3. Pemanfaatan Vegetasi Mangrove di Kampung Waren II Distrik Waropen Bawah Kabupaten Waropen (The Use Of Mangrove Vegetation in Waren II Village, District of Waren Bawah) Adriani Toteng (71-78).
  4. Pengetahuan Tradisonal Masyarakat Suku Yachai di Kabupaten Mappi Profinsi Papua dalam Memanfaatkan Tumbuhan Hutan sebagai Bahan Pangan Di (Indigenous Knowledge of Yachai People in Mappi District of Papua Province in Using Forest Vegetation as Edible Plant) Robertus A. Gobay dan Yohanes Y. Rahawarin (79-85).
  5. Pemanfaatan Jenis Kayu oleh Masyarakat Ambai sebagai Bahan Baku Komponen Bangunan Rumah Berlabuh (The Use of Tree Species by Ambai People as Material for Floating House) Yuli Triestini, dan Max J. Tokede (86-94).
  6. Analisa Vegetasi dan Potensi Sommieria Leucophylla Becc. (Arecaceae) di Hutan Wisata Sorong (Analysis of Vegetation And Potency of Sommieria Leucophylla Becc. (Arecaceae) in Ecotourism Park of Sorong) Elieser Vicktor Sirami. (95-105).



Beccariana Vol.7 Nomor 1, Mei 2005


(abstrak - abstracts)
  1. Pemanfaatan Vegetasi Mangrove di Kampung Bawei Distrik Numfor Timur Kabupaten Biak Numfor (The Use Of Mangrove Vegetation in Bawei Village, District Numfor Timur) Andreas R.D Maturbongs, J. Manusawai, + (1-9).
  2. Tingkat Stres Empat Genotipe Ubi Jalar (Ipomoea batatas (L) Lam.) pada Berbagai Taraf Iluminasi di Bawah Naungan Tajuk Kelapa Sawit Menghasilkan (Stress of Four Sweet Potato (Ipomoea batatas (L) Lam.) Genotypes Under Various Light Illumination Levels of Productive Oil Palm Shading) H. Agusta, A. Setiawan, H. Purnamawati, T.S. Sugiarto (10-18).
  3. Komposisi Vegetasi Mangrove di Muara Sungai Sumbari Teluk Bintuni Papua (Composition of Mangrove species in Delta Sumbari River, Bintuni Bay-Papua) Yohanes Y. Rahawarin, C.H. Hans Arwam, Wolfram Mofu (19-27).
  4. Metode Pengukuran Status Air Tanaman pada Ubijalar (Ipomoea Batatas (L) Lam.) (The Method of Plant Water Status Measurement in Sweet Potato (Ipomoea Batatas (L) Lam.)) Saraswati Prabawardani (28-34).
  5. Tempat Tumbuh Anggrek Spathoglottis plicata Bl. di Kawasan Hutan Kampung Woniki Distrik Biak Timur Kabupaten Biak Numfor Papua (Habitat of Spathoglottis plicata Bl. in Forest of Kampung Woniki East Biak District, Biak Numfor Papua) Yuliany Senga, C.Y. Hans Arwam (35-47).
  6. Matoa (Pometia Pinata Foster): Buah Lokal Papua dan Strategi Pengembangannya (atoa (Pometia Pinata Foster: Papuan local fruit and strategy for development) Julius D. Nugroho (48-55).



Beccariana Vol.7 Nomor 2, Sept 2005


(abstrak b.s. - abstracts n.a.)
  1. Asosiasi Interspesifik Antara Kayu Raja (Endospermum Moluccanum Becc., Kurz.) Dengan Semut Hitam, Camponotus Quadriceps Smith (Hymenoptera: Formicidae) Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Gunung Meja, Manokwari. Christ D.Sembay, Jacobus Wanggai Dan Jhon Marwa.
  2. Keragaman Jenis Pteridophyta Reofit Di Sekitar Kali Wakrek Kampung Marsram Dan Kali Wandares Kampung Sorendiweri Pulau Supiori. Anita F. Fatubun J. Wanggai Nurhaidah I. Sinaga.
  3. Aklimatisasi Planlet Anggrek Kribo (Dendrobium Spectabile) Dengan Pemberian Pupuk Secara In Vivo. Laely N. Pulungsari, B.B. Rettob, Cicilia M.E. Susanti.
  4. Pemanfaatan Kayu Sebagai Bahan Baku Komponen Bangunan Rumah Berlabuh Oleh Masyarakat Ansus Di Kabupaten Yapen Waropen (Utilization Of Woods As Raw Material To Make ‘Dock House’ By Ansus People of Yapen Waropen) Yubelince Runtuboi.
  5. Studi Karakteristik Rumput Dataran Tinggi Di Lembah Kamu Distrik Kamu Kabupaten Nabire Papua (Study Of Upland Grass Characteristics In Kamu Valley At District Of Kamu Nabire Regency Papua) Deny A. Iyai, Thimotius Sraun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar